
Lebak – Produksi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Kabupaten Lebak, Banten memiliki potensi besar terhadap pasar ekspor, karena mutu dan kualitas memenuhi standar.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Lebak Widy Ferdian di Lebak,Selasa mengatakan, produksi UMKM yang memiliki potensi besar ekspor itu antara lain gula aren, kerajinan bambu, batik Lebak, kopi, dan olahan pisang.
Dimana berkembang produksi usaha berbasis lokal itu didukung bahan baku melimpah dari sektor perkebunan.
Selama ini, kata dia, potensi produksi UMKM tumbuh hampir di semua daerah di Kabupaten Lebak.
Dengan demikian, pemerintah daerah melakukan intervensi melalui penguatan di antaranya rumah kemasan atau kurasi produk, menyediakan fasilitas desain dan cetak kemasan gratis.
“Kemasan wajib penuhi standar berupa barcode, info gizi, label, bahasa Indonesia dan Inggris, halal, kedap udara,” katanya menjelaskan.
Menurut dia, pada 2025 sebanyak 12.958 kemasan untuk 83 UMKM dan 2026 sebanyak 4.248 kemasan.
Selain itu, juga fasilitas pangan industri rumah tangga (PIRT), halal, hak atas kekayaan Indonesia (HAKI), masa simpan, masing – masing 10 produk anggaran 2025, dan 2026 sebanyak 10 produk.
Disamping itu juga Kabupaten Lebak sudah memiliki Mal Pelayanan Publik (MPP) salah satunya Gerai Layanan OSS untuk Nomor Induk Berusaha (NIB), tahun 2025 terbit sebanyak 45.013 NIB.
Dan, tahun 2026 sampai dengan tanggal 25 Mei 2026 sebanyak 22.214 NIB.
“Kami menilai melalui intervensi pemerintah daerah itu dipastikan produksi UMKM Lebak sudah ekspor ke luar negeri,” katanya.
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mitra Mandala Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak Anwar Aan mengatakan, pihaknya beberapa tahun terakhir produksi gula semut berbentuk bubuk yang bahan bakunya gula aren ekspor ke berbagai negara mulai Korea Selatan,Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Arab Saudi hingga Eropa.
Tingginya permintaan pasar ekspor itu setelah mengikuti pameran produk gula semut di sejumlah negara melalui sponsor perusahaan eksportir dari Jakarta.
“Kami bisa ekspor gula semut antara 20-30 ton per bulan,” kata Anwar.
Sementara itu, Fahri ( 22) seorang perajin bambu di Curugbitung Kabupaten Lebak mengatakan pihaknya memproduksi baki atau tampan untuk tempat buah-buahan, makanan, minuman aqua, tisu, kipas angin, tempat nasi, keranjang parcel, boboko, lampion mampu ekspor ke Negara Belanda melalui perusahaan di Jakarta.
“Kita banyak pesanan ekspor produk kerajinan bambu itu ,” katanya.

Tidak ada komentar