
Lebak, Banten — Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terus memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional. Produksi beras di wilayah ini tidak hanya mencukupi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga disalurkan ke berbagai daerah di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek).
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan bahwa petani di daerahnya mampu mendukung ketahanan pangan nasional melalui pola tanam dua kali dalam setahun. Pemerintah daerah pun mendorong percepatan tanam setelah masa panen guna menjaga kesinambungan produksi.
“Kami meminta petani setelah musim panen segera melakukan percepatan tanam agar produksi pangan tetap berkelanjutan,” ujar Rahmat di Lebak, Minggu.
Pemerintah Kabupaten Lebak mengapresiasi peran petani yang telah menjadikan daerah tersebut sebagai salah satu lumbung pangan di Provinsi Banten. Selain mencukupi kebutuhan lokal, produksi beras Lebak juga memasok kebutuhan wilayah Jabotabek.
Saat ini, petani di Kabupaten Lebak mengelola luas tambah tanam (LTT) sekitar 100 ribu hektare per tahun dengan indeks pertanaman dua kali tanam dalam setahun. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Lebak bersama Kabupaten Serang termasuk dalam 10 kabupaten pemasok beras nasional untuk wilayah Jabotabek.
Rahmat menambahkan, pada 2025 produksi gabah kering panen (GKP) Kabupaten Lebak mencapai 725.813 ton, atau setara sekitar 380 ribu ton beras.
“Produksi ini terus kami dorong meningkat. Tahun 2025 mencapai 725.813 ton gabah kering panen atau setara 380 ribu ton beras,” katanya.
Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, kebutuhan konsumsi beras Kabupaten Lebak diperkirakan mencapai 140 ribu ton per tahun. Dengan produksi sekitar 380 ribu ton, daerah ini mengalami surplus sekitar 240 ribu ton yang dapat disumbangkan untuk kebutuhan pangan nasional.
Rahmat menegaskan, sektor padi sawah masih menjadi penopang utama pendapatan petani dibandingkan komoditas hortikultura maupun palawija. Sentra produksi terbesar berada di wilayah selatan Lebak, meliputi Kecamatan Malingping, Wanasalam, Banjarsari, dan Bayah.
Dari sisi ekonomi, usaha tani padi sawah dinilai masih memberikan keuntungan yang stabil. Dengan kebutuhan investasi sekitar Rp10 juta per hektare dan produktivitas rata-rata lima ton gabah per hektare, usaha ini dinilai cukup menjanjikan.
“Dengan harga gabah Rp6.500 per kilogram dan produktivitas lima ton per hektare, pendapatan bisa mencapai sekitar Rp32,5 juta per hektare,” jelas Rahmat.
Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sukabungah Kabupaten Lebak, Ruhiana, mengatakan usaha tani padi masih menjadi pilihan utama petani karena hasil panen terserap pasar dengan baik, termasuk oleh Perum Bulog dengan harga gabah Rp6.500 per kilogram.
Menurutnya, biaya produksi rata-rata mencapai sekitar Rp10 juta per hektare dengan hasil panen sekitar lima ton gabah. Dari hasil tersebut, petani biasanya menjual empat ton dan menyisihkan satu ton untuk kebutuhan pangan keluarga.
“Kami menjual empat ton gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram, sehingga memperoleh sekitar Rp26 juta. Satu ton lainnya kami simpan untuk cadangan pangan keluarga,” ujar Ruhiana.

Tidak ada komentar